Oracle memperluas portofolio Cloud@Customer dengan memperkenalkan Base Database Cloud@Customer, layanan database terkelola yang dirancang untuk perusahaan menengah. Penawaran ini memungkinkan organisasi menjalankan database, aplikasi, dan agen AI di pusat data mereka sendiri dengan pengelolaan penuh dari Oracle.
Layanan baru ini menggabungkan Base Database Service dengan platform Data Infrastructure Cloud@Customer X11. Platform tersebut terdiri dari dua server komputasi Oracle X11 beserta penyimpanan all-flash bersama, yang menyediakan hingga 60 inti prosesor dan 660 GB memori per server, serta kapasitas penyimpanan 47,2 TB.
Penawaran ini ditujukan bagi perusahaan yang tidak memerlukan skala Exadata Cloud@Customer namun tetap menginginkan infrastruktur dan kemampuan AI on-premises. Model ini sangat relevan bagi sektor yang tunduk pada persyaratan residensi data, regulasi ketat, serta kebutuhan latensi rendah.
Analis industri menilai bahwa Base Database Cloud@Customer mengisi celah bagi organisasi yang ingin memperoleh manfaat operasional dan ekonomi model cloud tanpa harus memindahkan data ke lingkungan publik. Sektor keuangan, kesehatan, pemerintahan, dan pertahanan menjadi target utama karena kewajiban kepatuhan data.
Salah satu keunggulan utama adalah sifatnya yang terkelola sepenuhnya. Perusahaan tidak perlu membangun sendiri kemampuan clustering, patching, serta mekanisme high availability, sehingga tim IT berukuran menengah dapat memanfaatkan otomatisasi yang biasanya hanya tersedia di organisasi besar.
Model harga berbasis langganan dan kemampuan penskalaan komputasi secara online juga membantu menghindari pemborosan lisensi untuk inti prosesor yang tidak digunakan. Hal ini berbeda dengan sistem on-premises tradisional yang bersifat tetap dan sering kali over-provisioned.
Selain manfaat operasional, arsitektur Base Database Cloud@Customer memungkinkan database, aplikasi, mesin virtual, dan agen AI berjalan dalam platform yang sama. Kondisi ini menghilangkan kebutuhan mengirim data sensitif ke layanan eksternal, yang selama ini menjadi hambatan utama adopsi AI di lingkungan teregulasi.
Dalam konteks persaingan, meskipun beberapa vendor lain menawarkan solusi hybrid, integrasi vertikal Oracle antara database, perangkat keras engineered, manajemen cloud, serta arsitektur ketersediaan tinggi dalam satu penawaran terkelola sulit ditandingi. Pendekatan ini dapat mempercepat siklus pengembangan dan mengurangi kompleksitas integrasi.
Selain itu, penawaran ini mendukung Oracle AI Database 26ai serta Oracle Database 19c dalam edisi Enterprise dan Standard, termasuk fitur Real Application Clusters dan Data Guard yang dikelola secara otomatis. Ketersediaan umum telah dimulai, meskipun Oracle belum merilis informasi harga secara terbuka.
Dari perspektif transformasi digital, langkah Oracle ini mencerminkan tren yang lebih luas di mana perusahaan semakin memilih model cloud terkelola on-premises untuk menyeimbangkan inovasi teknologi dengan kewajiban regulasi. Pendekatan semacam ini berpotensi mempercepat modernisasi beban kerja menengah di berbagai industri tanpa mengorbankan kontrol data.
